Senin, 30 Juli 2012


Menghormati Budaya untuk melestarikan alam 
 (To Kutoarjo Purworejo.)

      Alam semesta tempat yang kita tiggali mutlak perlu untuk dijaga, dipelihara dan di lestarikan agar umat manusia yang metempati bisa lestari, sehat, sejahtera teruma generasi anak cucu kita masih bisa menempati bumi ini dengan layak apalagi kalau lebih baik lagi dari saat ini dimana saat ini kalau kami rasakan sudah banyak hal yang tidak idial lagi. Coba mari kita rasakan bagamana lingkungan kita sudah tidak begitu baik mendukung kehidupan kita, air cudah banyak tercemar sehingga untuk media hidup kita , tanaman dan hewan tidak nyaman lagi ditambah kondisi social ekonomi masyarakat kita ada sebagian yang kurang terpuji dengan membuang limbah tidak pada tempatnya yang menjadikan polusi tanah, air dan udara. Ditambah sikap kita yang mempunyai budaya baru yang kurang elok contohnya menangkap ikan dengan setrum , racun bahkan dengan bom ikan dll.
      Siapa lagi yang bisa diharapkan untuk melindungi alam tempat tinggal kita ini kalau bukan kita sendiri mungkin kita hanya bisa bicara dengan apa yang ada di pikiran dan hati kita, tetapi sebenarnya sudah ada upaya dari wakil-wakil kita untuk membuat aturan unntuk hal ini tapi itu perlu hal kongkrit untuk pelaksanaannya, juga pengawasannya ditambah kesadaran kita untuk itu.
      Kalau kita sedikit belajar mengenai hal ini ada beberapa contoh di sekitar kita atau dari beberapa tempat yang secara budaya maupun adat sudah dengan fanatic mempertahankan kelestarian alam secara turun temurun hingga saat ini masih lestari dengan beberapa cara salah satunya mitos pelestarian ala mini success karena masyarakat menghormati mitos itu, kalau merusak atau menganngu makluk disitu akan timbul hal-hal yang kurang baik bagi dirinya maupun lingkungannya jadi alam terlindungi.
     Memang alam ini tercipta untuk sebanyak-banyaknya untuk dipergunakan  pergunakan dan dimanfaatkan demi kesejahteraan kita semua, tapa ingat sumber daya alam terbatas bisa rusak bisa pula habis mungkin alam bisa recafery untuk bisa tumbuh kembali tapi itu lambat tidak memenuhi kebutuhan kita. Mungkin kita bisa membatu itu dengan budaya Cuma masalahnya budidaya butuh tenaga pikran, ilmu pengetahuan dan biaya.
      Sejak kita masih belia di daerah saya tinggal ada dua tempat yang lingkungannya sangat terjaga oleh sebab masyarakatnya secara adat dan budaya secara turun temurun menghormati tradisi itu pohon-pohon yang tumbuh orang tidak berani menembang bahkan sekedar untuk kayu bakar ranting yang sudah kering pun tak berani ambil,  masyarakat akan mengambil pohon pun kalau untuk dipergunakan kepentingan desa umpamanya untuk bangunan Masjid, Mushola atau kantor desa. Bahkan pada waktu masih anak-anak kita dan teman-teman kalau terpakasa lewan diajarkan untuk bilang ”numpang-nupang lewat  Mbah “ sepanjang yang kita lewati.
     Bagaimanapun Sumber alam melimpah di suatu wilayah kondisi global saat ini susah untuk dilindungi karena masyarakat sudah mobilitasnya luas apa bila disatu wilayah sumber alamnya tidak ada kepemikan secara hak siapa yang bisa melarang untuk mencarinya selagi ini masih wilayah Negara kita kecuali sudah dikuasai suatu pihak dan dijaga dengan baik Contohnya sumber daya alam ikan di sungai, dilaut dipersawahan sumber alam di sungai di gunung dll.  Contoh di banyah tempat masyarak tidak berani ambil ikan di sutu kolam atau danau, marakat tdak barani mengganggu hewan disuatu taman menembang pohon di sutu hutan atau wilayah itu bukan takut sama Maaf “ tapi ada sesuatu yang kita tidak faham. Tks.m116.